Bangkai Pesawat di Desa Gupit Sukoharjo, Jejak Merpati yang Punya Nilai Baru

Sebuah gudang di Desa Gupit, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menyimpan 11 bangkai pesawat eks Merpati Nusantara Airlines di atas lahan seluas sekitar 4.000 meter persegi. Bangkai pesawat tersebut diperjualbelikan untuk berbagai keperluan, mulai dari edukasi penerbangan hingga diubah menjadi restoran atau kafe bertema aviasi.
Harga satu unit pesawat dibanderol mulai Rp 700 juta, sementara unit termahal yakni Boeing 737-200 dijual dengan harga Rp 2,2 miliar, termasuk biaya pengiriman dan pemasangan.
Bangkai Pesawat di Desa Gupit Sukoharjo Menarik Perhatian
Keberadaan bangkai pesawat di Desa Gupit Sukoharjo menjadi pemandangan tak biasa di kawasan pedesaan Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Di tengah hamparan sawah dan jalan desa yang sunyi di Dusun Dukuh, Kecamatan Nguter, berdiri sebuah gudang luas yang menyimpan belasan pesawat komersial eks Merpati Nusantara Airlines.
Di atas lahan seluas kurang lebih 4.000 meter persegi, sedikitnya terdapat 11 unit pesawat yang kini “berlabuh” permanen. Badan pesawat, sayap, hingga kokpitnya tersusun rapi, menjadi saksi perjalanan panjang maskapai pelat merah yang pernah melayani rute-rute perintis di Indonesia.
Lokasi dan Kondisi Bangkai Pesawat
Bangkai pesawat di Desa Gupit Sukoharjo tidak dibiarkan terbengkalai begitu saja. Seluruh unit disimpan di dalam area gudang dengan pengawasan, sehingga kondisinya relatif terjaga.
Pesawat-pesawat tersebut sebelumnya disimpan di Jakarta sebelum akhirnya dipindahkan ke Sukoharjo. Pemindahan ini dilakukan untuk menunjang aktivitas usaha jual beli bangkai pesawat yang mulai berjalan sejak akhir 2019, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19.
Awal Usaha Jual Beli Bangkai Pesawat
Mahdianto, salah seorang karyawan gudang, menjelaskan bahwa usaha ini dimiliki oleh Ambon Muhtarom. Sebelum terjun ke perdagangan bangkai pesawat, pemilik usaha telah berpengalaman di bisnis scrap kapal sejak 1995 hingga 2011.
“Pemiliknya, Ambon Muhtarom, sebelumnya bergerak di bisnis scrap kapal sejak 1995 hingga 2011. Setelah itu beralih ke perdagangan bangkai pesawat yang sudah tidak terpakai,” ujar Mahdianto, Jumat (9/1/2026).
Pengalaman panjang di dunia scrap menjadi modal penting. Berbeda dengan scrap kapal yang identik dengan pembongkaran menjadi besi tua, pesawat memiliki nilai lain karena tidak seluruh bagiannya harus dilebur.
Kehidupan Kedua Bangkai Pesawat
Di Sukoharjo, bangkai pesawat tersebut memiliki kehidupan kedua. Unit-unit pesawat diperjualbelikan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari sarana edukasi penerbangan hingga diubah menjadi bangunan unik berkonsep restoran atau kafe bertema aviasi.
Selama beroperasi di Sukoharjo, setidaknya sudah satu unit pesawat terjual ke wilayah Jawa Timur untuk kebutuhan pendidikan penerbangan.
“Pesawat yang terjual itu jenis CASA 212-200 dengan harga Rp 1,2 miliar,” jelas Mahdianto.
Harga Bangkai Pesawat dan Biaya Tambahan
Minat pasar terhadap bangkai pesawat di Desa Gupit Sukoharjo terbilang cukup tinggi. Namun, sebagian calon pembeli masih berada pada tahap pertimbangan.
Untuk harga, satu unit pesawat dibanderol mulai Rp 700 juta dengan sistem ambil sendiri. Jika pembeli berada di Pulau Jawa dan meminta pengantaran, biaya kirim berkisar Rp 50 juta hingga Rp 60 juta.
Sementara itu, biaya perakitan dan pemasangan di lokasi pembeli mencapai Rp 200 juta hingga Rp 300 juta.
“Kalau dihitung total, bisa sekitar Rp 1 miliar lebih sedikit untuk satu pesawat,” ungkapnya.
Penjualan Komponen Pesawat Secara Terpisah
Selain menjual badan pesawat utuh, gudang tersebut juga melepas berbagai komponen pesawat secara terpisah. Beberapa di antaranya:
- Kursi penumpang: Rp 2 juta per set isi dua
- Kursi pilot: hingga Rp 13 juta per unit
- Ban pesawat kecil: sekitar Rp 700 ribu
- Ban pesawat besar: di atas Rp 1 juta
Mahdianto menyebut seluruh komponen tersebut masih baru dan belum pernah digunakan.
Asal-usul Bangkai Pesawat Merpati
Seluruh bangkai pesawat di Desa Gupit Sukoharjo diperoleh melalui lelang aset Merpati Nusantara Airlines setelah maskapai tersebut dinyatakan pailit pada 2013.
Jenis pesawat yang tersedia cukup beragam, meliputi:
- CASA 212-200
- Fokker 200
- Fokker 100
- Boeing 737-200
Dari seluruh unit, Boeing 737-200 menjadi pesawat termahal dengan harga mencapai Rp 2,2 miliar, sudah termasuk biaya pengiriman dan pemasangan.
Proses Perakitan di Lokasi Pembeli
Untuk proses perakitan pesawat di lokasi pembeli, waktu yang dibutuhkan relatif singkat.
“Untuk proses perakitan pesawat di lokasi pembeli, biasanya membutuhkan waktu paling cepat sekitar dua minggu,” pungkas Mahdianto.
Kesimpulan
Keberadaan bangkai pesawat di Desa Gupit Sukoharjo bukan sekadar cerita tentang armada tua yang berhenti terbang. Di kawasan pedesaan ini, pesawat-pesawat eks Merpati Nusantara Airlines justru menemukan fungsi baru, baik sebagai sarana edukasi maupun bangunan unik bernilai ekonomi tinggi.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana aset yang tak lagi beroperasi dapat dimanfaatkan kembali secara kreatif dan produktif. Jika Anda memiliki ketertarikan pada dunia aviasi atau konsep bangunan unik dari pesawat, keberadaan bangkai pesawat di Desa Gupit Sukoharjo layak untuk disimak dan dibahas lebih lanjut. (_/red)